Selasa, 16 Oktober 2018

Brand Lokal Harus Berpijak pada Kekayaan Budaya Nusantara

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Hubungan Antar Lembaga Bekraf Endah Wahyu Sulistianti, Bupati Belu Willybrodus Lay, Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim, dan co Founder Rumah Estribi Romo Adianto Aloysius mengajak peserta Kombet Kreatif berfoto bersama dan melakukan salam kreatif dalam pembukaan acara itu di Rumah Estribi, Belu, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 7 Oktober 2018. Fadwa Fahrudin/TelusuRI

    Deputi Hubungan Antar Lembaga Bekraf Endah Wahyu Sulistianti, Bupati Belu Willybrodus Lay, Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim, dan co Founder Rumah Estribi Romo Adianto Aloysius mengajak peserta Kombet Kreatif berfoto bersama dan melakukan salam kreatif dalam pembukaan acara itu di Rumah Estribi, Belu, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 7 Oktober 2018. Fadwa Fahrudin/TelusuRI

    TEMPO.CO, Belu - Kekayaan budaya nusantara bisa menjadi brand lokal yang kuat. “Saat ini trennya kembali ke natural, manfaatkan kekayaan lokal,” kata Ayip Budiman, pendiri Rumah Sanur, Karangasem Bali, Senin, 8 Oktber 2018 saat memberikan materi inspiratif di depan peserta Komunitas Kreatif Bekraf – Tempo Institute atau Kombet Kreatif di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

    Kombet Kreatif diadakan oleh Tempo Institute bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Ada 12 lawatan kota yang diadakan Kombet Kreatif, yakni Padang, Surabaya, Karangasem, Maumere, Kendari, Malang, Bojonegoro, Bandung Barat, Singkawang, Belu, Kupang, Merauke.

    Baca: Kekayaan Budaya Belu Bisa Jadi Peluang Usaha Ekonomi Kreatif

    Ayip menuturkan, para pegiat ekonomi kreatif bisa membuat branding dengan berdasarkan kebudayaan yang kuat. “Misalnya di Belu, apa yang paling khas di sini dan bisa merepresentasikan karakter yang unik di Belu,” ucapnya.

    Ayip menuturkan, sejatinya, Nusantara sudah mengenal branding luar biasa dari abad 9. “Borobudur adalah branding raksasa di abad 9. Jadi ketika sekarang banyak daerah membuat landmark, Borobudur sudah memulainya 12 abad lalu,” ujarnya.

    Menurut dia, ada tiga prinsip dasar saat mengembangkan brand lokal harus bisa menciptakan nilai sosial, bisnis, dan produk. Saat menciptakan nilai sosial, brand harus bisa mendorong ekosistem untuk memberikan manfaat, keuntungan, dan dampak yang berkelanjutan. Saat membuat brand yang menciptakan nilai bisnis, harus mampu memunculkan nilai dan daya saing melalui pengembangan desain dan tren. Terakhir, brand harus bisa menciptakan produk berkualitas yang memadukan nilai fungsi, simbolik, dan berdasarkan pengalaman.

    Ayip menuturkan, soal merk tidak hanya didominasi oleh pengusaha besar tapi juga Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).  “Pelaku usaha ekonomi kreatif juga bisa menguasai merek,” katanya.

    Baca: Adu Ide Kreatif Merebut Pasar Besar

    Ia mengingatkan, selain membuat branding, pegiat ekonomi kreatif tidak boleh melupakan berjejaring. "Jaringan itu penting sekali dalam usaha. Di dalam kontak jaringan itu ada yang akan membantu kita, mengimbangi dan berempati. Bisa jadi, merekalah yang akan melebarkan pasar kita."

    Menurut dia, pegiat ekonomi kreatif harus mengandalkan modal sosial. "Ya berjejaring melalui komunitas,"kata dia.

    Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim mengatakan infuencer berpengaruh bisa dillibatkan dalam memasarkan produk. "Ajak influencer memakai produk kita lalu ditambahi  dengan storytelling, pasti harganya jauh di atas dan laris," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.