Jumat, 16 November 2018

Manfaat Storytelling Bagi Penjualan Produk Ekonomi Kreatif

Reporter:
Editor:

Fadhli Sofyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegiat ekonomi kreatif sedang belajar storytelling pada program Kombet Kreatif di Bale Seni Barli, Bandung. Program ini dilakukan oleh Bekraf Deputi 6 dan Tempo Institute sebagai upaya pendampingan komunitas ekonomi kreatif di 12 kota.

    Pegiat ekonomi kreatif sedang belajar storytelling pada program Kombet Kreatif di Bale Seni Barli, Bandung. Program ini dilakukan oleh Bekraf Deputi 6 dan Tempo Institute sebagai upaya pendampingan komunitas ekonomi kreatif di 12 kota.

    TEMPO.CO, Bandung - Storytelling atau penceritaan untuk produk barang atau jasa diakui penggiat ekonomi kreatif di Bandung bisa mengangkat angka penjualan. Lewat penceritaan yang sederhana hingga menyentuh nilai kemanusian, storytelling ampuh menggaet konsumen.

    Baca: Ini 3 Kiat Mengembangkan Karyawan di Usaha Ekonomi Kreatif

    Beberapa peserta program “Pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf - Tempo Institute” atau Kombet Kreatif di Bandung Barat 3-5 Oktober 2018 mengaku bingung dengan istilah storytelling. Seiring waktu, banyak juga yang penasaran setelah pendiri Qlapa.com Benny Fajarai tampil membuka materi dan diskusi. "Biasanya saya cuma nulis satu kata untuk keterangan produk," kata Dian.

    Awalnya pun ketika mulai praktik, banyak yang kesulitan membuat storytelling karena belum terbiasa. storytelling merupakan penyampaian cerita seputar produk yang dibuat. Selain informasi untuk mengenalkan produknya secara detil, balutan cerita diharapkan bisa menjalin hubungan dengan konsumen. "Ceritanya bisa apa saja, tapi harus jujur," kata Ukke R. Kosasih, pembicara lain yang mendirikan usaha boneka Circa.

    Peserta yang telah membuat storytelling produk seperti Yunis Kartika, mengakui adanya dampak pada penjualan. Tidak hanya produk miliknya, tapi juga produk kenalannya yang dibuatkan cerita. "storytelling juga bisa membuat bidang kerjaan baru," katanya.

    Kasubdit Hubungan Antarlembaga Pemerintah Dalam Negeri, Yoseph Payong Masan perwakilan Bekraf mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif se-Indonesia didesain acaranya untuk menambah nilai produk. "Salah satunya rumusan storytelling bagi
    orang yang mau beli suatu produk, proses membuatnya bagaimana dan lain-lain," katanya.

    Menurut Tempo Institute, setidaknya ada tujuh fokus atau tema untuk menceritakan produk ekonomi kreatif. Yaitu detil produk, nilai yang ingin dilekatkan pada produk, perjuangan usaha, pelanggan, proses pembuatan, mitra usaha atau karyawan, serta perubahan yang dialami.

    Baca juga: Adu Ide Kreatif Merebut Pasar Besar

    Bandung Barat menjadi kota ke delapan yang didatangi program “Pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf - Tempo Institute” atau Kombet Kreatif. Acara perdana berlangsung di Kota Padang pada 27-29 September, lalu Surabaya, Karangasem, Kendari, Maumere, Malang, dan Bojonegoro. Pendampingan Kombet Kreatif seterusnya berlanjut di Singkawang, Belu, Kupang, dan Merauke.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.