Cerita Kenapa Restoran Indonesia di Luar Negeri Tak Bertahan Lama

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Indonesian Diaspora Business Council Fify Manan menjelaskan idenya dalam mempromosikan kuliner Indonesia di Amerika Serikat, pada sesi Culinary Art of Start  Innovation Network of Asia 2018 di Jakarta, Kamis, 6 Desember 2018. Foto: Istimewa

    Presiden Indonesian Diaspora Business Council Fify Manan menjelaskan idenya dalam mempromosikan kuliner Indonesia di Amerika Serikat, pada sesi Culinary Art of Start Innovation Network of Asia 2018 di Jakarta, Kamis, 6 Desember 2018. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Makanan khas Indonesia seperti rendang, nasi goreng, soto, sate dan masih banyak lagi pamornya semakin mendunia. Hal ini karena Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman dan kelezatan olahan kulinernya.

    Baca: Kontribusi Ekonomi Kreatif Capai 7,57 Persen

    Saking lezatnya, di antara menu kuliner itu, rendang, menjadi bagian dari 50 makanan terenak di dunia berdasarkan hasil survei CNN pada 2017. Pengaruhnya, bisnis kuliner pun sangat menggiurkan di mancanegara dan berkontribusi sekitar 40 persen sektor ekonomi kreatif di Indonesia pada tahun yang sama.

    Namun demikian, tidak banyak bisnis restoran Indonesia yang bertahan lama di luar negeri. Bahkan jumlah restoran Indonesia di luar negeri masih kalah dibanding Thailand dan Vietnam. Mengapa demikian? Dalam forum Innovation Network of Asia (INA) 2018 yang digelar Kamis, 6 Desember 2018 di Jakarta, masalah ini dikupas.

    Menurut  Presiden Indonesian Diaspora Business Council, Fify Manan, persoalan yang sering dihadapi pengelola restoran Indonesia di luar negeri adalah pasokan bahan, terutama bumbu. “Inilah yang kerap dihadapi pebisnis restoran Indonesia di luar negeri. Tantangan utama ini harus segera dicari solusinya,“ kata Fify seperti rilis yang diterima Tempo, Jumat, 7 Desember 2018.

    Fify mencontohkan akibat susahnya mendapat pasokan bumbu dari Indonesia. Banyak pebisnis restoran Nusantara kesulitan memasak karena persediaan bumbu tak segera dipenuhi. Konsumen di luar negeri sudah tahu bahwa ciri khas masakan Indonesia adalah kandungan rempah-rempahnya.

    “Kadang mereka (pemilik restoran) terpaksa mengganti bumbu dengan bahan lain yang lebih mahal. Akibatnya rasa masakannya bukan hanya kurang otentik, tapi juga harganya pun jadi lebih mahal,” kata Fify mengungkapkan.

    Fify mengusulkan, perusahaan maskapai penerbangan Indonesia yang beroperasi di luar negeri sebaiknya memanfaatkan peluang ini. Caranya, kata dia, ikut ambil bagian menyuplai kebutuhan bumbu masak khas Indonesia ke sejumlah negara.

    “Bisa meniru Thailand yang maskapai nasionalnya, Thai Airways, diperbantukan untuk memasok bumbu dan bahan-bahan makanan guna mendukung bisnis restoran negara itu di luar negeri,” kata Fify.

    Fify mengaku akan membuka restoran WIN Grill & Gastrobar di Atlanta, Georgia, pada awal 2019. WIN, kata Fify, bukan restoran fine dining dan bukan pula restoran tradisional Indonesia, melainkan restoran upscale yang dapat dinikmati oleh banyak kalangan. “Selain restoran akan ada House of Indonesia yang berisi berbagai macam kerajinan dan produk-produk khas Tanah Air,” kata Fify.

    Fify berharap dengan mengkombinasi restoran dan produk kreatif, masyarakat di sana tidak hanya menikmati masakan Indonesia, tapi juga mengetahui kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa keragamannya. “Indonesia sangat kaya industri kreatif”.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.