Jumat, 16 November 2018

Konferensi WCCE, Bekraf Paparkan Tantangan Ekonomi Kreatif

Reporter:
Editor:

Mardiyah Chamim

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Ricky Joseph Pesik, Wakil Kepala Bekraf, saat acara kick off program pendampingan komunitas ekonomi kreatif Bekraf dan Tempo (Kombet Kreatif) 26 Juli 2018.

    Ricky Joseph Pesik, Wakil Kepala Bekraf, saat acara kick off program pendampingan komunitas ekonomi kreatif Bekraf dan Tempo (Kombet Kreatif) 26 Juli 2018.

    TEMPO.CO, Nusa Dua - Konferensi WCCE di Nusa Dua, Bali, mulai digelar hari ini, Selasa, 6 November 2018. Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif atau  Bekraf , Ricky Joseph Pesik, mengatakan di tengah situasi yang menjanjikan bagi ekonomi kreatif ada tantangan yang dihadapi para pelaku sektor ini. Salah satunya, para pelaku ekonomi kreatif banyak yang susah mendapatkan akses permodalan.

    Baca: Hari Ini Konferensi WCCE Dimulai, Pelaku Ekonomi Kreatif Berkumpul

    Soal tantangan tersebut disampaikan Ricky dalam acara Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia (World Conference on Creative Economy atau WCCE) di Nusa Dua, Bali. Konferensi diselengarakan oleh Bekraf dan berlangsung pada 6 - 8 November 2018.

    “Ekonomi kreatif paling potensial tumbuh. Sektor ini terbukti bertahan di tengah situasi ekonomi yang melambat," kata Ricky dalam sambutannya di  pembukaan WCCE Nusa Dua, Selasa, 6 November 2018. Peserta WCCE merupakan pelaku ekonomi kreatif dari dalam negeri dan mancanegara. Sejumlah negara mengirimkan perwakilannya ke acara ini.   

    Di Indonesia, menurut Ricky, kontribusi ekonomi kreatif pada GDP (Produk Domistik Bruto) tahun lalu mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun. Tiga sektor utama yang menyumbang revenue paling banyak adalah sektor kuliner Rp 382 triliun, fashion Rp 166 triliun, dan kriya Rp 142 triliun.

    Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia (World Conference on Creative Economy atau WCCE) di Nusa Dua, Bali. Acara yang diselengarakan Bekraf ini berlangsung pada 6-8 November 2018. TEMPO/Mardiyah Chamim

    Para pelaku ekonomi kreatif termasuk di Indonesia, kata Ricky, biasanya berskala kecil dan menengah. Mereka bekerja dengan cinta, yang terkadang kurang memperhatikan skala ekonomi. Tantangannya, Ricky melanjutkan, mereka susah mendapatkan akses permodalan. "Itulah salah satu tujuan konferensi ini, mencari solusi bagi tantangan yang dihadapi dunia ekonomi kreatif," kata Ricky.

    Ekonomi kreatif, kata Ricky, tak hanya menyediakan oportuniti pertumbuhan ekonomi. "Lebih dari itu ekonomi kreatif memberi kesempatan pada masyarakat untuk berkomunikasi secara kreatif, juga saling memahami budaya."

    Sebelumnya, Direktur Hubungan Antarlembaga Luar Negeri Bekraf, Candra Negara, menyampaikan perlu adanya kerja sama dan kolaborasi yang erat antarbangsa dengan melibatkan berbagai unsur seperti akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah dan media.

    WCCE yang bertema Inclusively Creative akan membahas isu terkait dengan pengembangan, kesempatan dan tantangan ekonomi kreatif. Konferensi ini ditargetkan dihadiri pelaku industri, kalangan ahli ekonomi, tokoh terkemuka, akademisi dan media. Sekitar 50 wakil negara menyampaikan kehadirannya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.