Jumat, 16 November 2018

Pegiat Ekonomi Kreatif, Berceritalah untuk Pasarkan Produk

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebanyak 48 pegiat ekonomi kreatif di Kabupaten Merauke mengikuti Kombet Kreatif pada 22-24 Oktober 2018 di Audirorium Kantor Bupati Merauke, Papua. Mereka mendapatkan materi cara membranding dan belajar bercerita.  Ridho Mukti Aji / TelusuRI

    Sebanyak 48 pegiat ekonomi kreatif di Kabupaten Merauke mengikuti Kombet Kreatif pada 22-24 Oktober 2018 di Audirorium Kantor Bupati Merauke, Papua. Mereka mendapatkan materi cara membranding dan belajar bercerita. Ridho Mukti Aji / TelusuRI

    TEMPO.CO, Jakarta - Storytelling atau bercerita merupakan strategi pemasaran terbaik yang direkomendasikan oleh pelaku ekonomi kreatif untuk mencapai kesuksesan. Bukan hanya pelaku ekonomi kreatif yang menggunakannya, industri besar yang sudah mendunia pun melakukan storytelling untuk memasarkan produk mereka.

    Baca: Pegiat Ekonomi Kreatif Merauke Harus Jadi Kompor untuk Komunitas

    "Contohnya, perusahaan minuman terbesar di dunia juga menggunakan metode storytelling untuk menaikkan oplah permintaan," kata Dwi Setyo Irawanto  atau akrab dipanggil Siba, wartawan senior, saat memulai materi storytelling dalam pendampingan Kombet Kreatif di Auditorium Kantor Bupati Merauke, Provinsi Papua, Selasa, 23 Oktober 2018. 

    Kombet Kreatif adalah komunitas kreatif Bekraf - Tempo Institute yang digelar di 12 kota. Peserta pendampingan Kombet Kreatif mendapatkan teknik pemasaran, berjejaring, dan storytelling.

    Siba menuturkan, metode storytelling juga dilakukan oleh penenun batik di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, kain tenun dengan motif sederhana yang terbuat dari pewarna alami, mampu bersaing dengan yang bermotif luar biasa. "Masalah harga pun bisa tidak menjadi persoalan," ujarnya. 

    Apa yang membuat konsumen tidak berpikir dua kali meskipun harganya sangat mahal, kata Siba, lantaran ada kisah melegenda di balik pembuatan tenun itu. “Kisahnya sangat menarik, bagaimana bahan kain itu diperoleh, lalu diproses dan mendapatkan hasil membutuhkan waktu yang cukup lama dan penuh kesabaran yang luar biasa."

    Menurut Siba, cara produsen minuman dan penenun NTT itu menggunakan teknik bercerita ini bisa menginspirasi pelaku ekonomi kreatif. Bagi konsumen sendiri, kisah itu menyentuh mereka hingga tergerak untuk membeli. 

    Siba menuturkan, storytelling yang dibuat tidak sekadar bercerita, tetapi harus mampu digambarkan dalam tulisan, sehingga membuat orang tertarik. “Ceritanya harus tidak bertele-tele, tidak menggunakan kata yang tidak perlu,” katanya.

    Haryati S. Gebze, ibu rumah tangga yang mengelola usaha bakso ikan, sangat tertarik dengan metode baru yang diperoleh selama mengikuti Kombet Kreatif.  Ia mengaku sudah mengikuti pelatihan dan pembinaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan. "Ikut Kombet ini, memperkaya ide cara memasarkan produk," kata dia. "Saya lebih bersemangat lagi bercerita soal produk untuk merebut hati konsumen,” kata Haryati S. Gebze.

    Baca juga: Bekraf: Tahun 2019 PDB Ekonomi Kreatif Diperkirakan Naik

    Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Rusdiati Tanawali. Pegiat ekonomi kreatif yang membuat minyak albumin dari ikan gastor khas Merauke ini menuturkan, selama ini ia tidak hobi bercerita. “Tapi gara-gara mengikuti Kombet, saya makin percaya, produk yang saya buat akan banyak diminati masyarakat kalau saya gunakan teknik bercerita.”

    SYECH BOFTEN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.