Selasa, 16 Oktober 2018

Begini Memetakan Potensi Desa Bersama Kombet Kreatif

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para peserta ekonomi kreatif saat sesi diskusi dalam pendampingan Tempo Institute dan Bekraf di Taman Sukasada Ujung Karangasem Bali, Rabu, 12 September 2018/BRAM SETIAWAN

    Para peserta ekonomi kreatif saat sesi diskusi dalam pendampingan Tempo Institute dan Bekraf di Taman Sukasada Ujung Karangasem Bali, Rabu, 12 September 2018/BRAM SETIAWAN

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Pakar branding Arief Ayip Budiman mengatakan, perlunya mengetahui potensi lokal yang ada di desa-desa. Apakah itu menyangkut unsur sejarah, seni, budaya, cerita dan lainnya. ”Ketika sudah tahu, maka akan mudah mengembangkan,” ujar Arief dalam acara  Program Pendampingan Kombet Kreatif (Komunitas Kreatif Bekraf - Tempo Institute) di Kantor Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif Desa Sukorejo, Kecamatan Kota Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis, 27 September 2018.

    Menurut Arief, warga desa selalu mengatakan tidak punya apa-apa ketika ditanya. Mereka bingung menyebutkan apa saja potensinya. Kalaupun mereka mengaku sudah mengetahui, kata Arief, akan diapakan potensi tersebut. "Potensi ada yang terukur dan tidak terukur. Misalnya keindahan panorama desa tidak terukur".

    Arief lantas mencontohkan Kabupaten Karangasem, Bali, dirinya membina desa wisata berbasis kearifan lokal. Koleksi masyarakat dijadikan satu, seperti daun lontar untuk herbal. “Tantangan yang sebenarnya dimiliki oleh desa adalah mengatahui potensinya,: kata dia.

    Selanjutnya, menurut Arief, keberadaan sumber daya manusia yang tampil menjadi pelopor. Di Singaraja, Bali, ada  Gede Krisna. Ia seorang arsitek yang memutuskan kembali ke desanya. Krisna menekuni bidang riset dan pelopor yang memantik masyarakat. “Leader itu tidak bisa di copypaste,” kata Arief.

    Dalam acara Program Pendampingan Kombet Kreatif itu juga menampilkan ahli tata rupa Vincentius. "Pelajaran penting bagi para pelaku ekonomi kreatif agar belajar mengenal target pasar. Apakah  produk yang dibuat diterima atau tidak. Siapa targetnya, harus tahu dulu,” ujar Vincentius.

    Acara Tempo Institute dan Badan Ekonomi Kreatif sebagai upaya mempertemukan pelaku usaha ekonomi dan industri kreatif di Bojonegoro. Kegiatan pendampingan komunitas kreatif ini berlangsung tiga hari, 27 sampai 29 September 2018.

    "Diikuti sekitar 40 pelaku ekonomi dan industri kreatif terpilih." kata Sinta Rachmawati  Tempo Institute. Dalam pembukaan acara ini dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Bojonegoro, Agus Supriyanto.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.