Tantangan Industri Media: Kembali Jadi Sumber Informasi Utama

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nezar Patria, Pemred The Jakarta Post menjadi salah satu pembicara seminar The Future Media, Tempo Media Week 2019, Sabtu, 7 Desember 2019.

    Nezar Patria, Pemred The Jakarta Post menjadi salah satu pembicara seminar The Future Media, Tempo Media Week 2019, Sabtu, 7 Desember 2019.

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri media saat ini menghadapi tantangan serius. Pengaruhya sebagai sebuah medium yang bisa mempengaruhi opini publik berhadapan dengan media sosial. “Media mainstream ditantang oleh platform media sosial termasuk dalam soal revenue,” kata Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Nezar Patria kepada Tempo, Kamis, 5 Desember 2019.

    Menurut Nezar, saat ini, iklan digital lebih banyak lari ke media sosial ketimbang ke media mainstream. Tentu yang bisa dilakukan media mainstream adalah bagaimana cara bisa mendapatkan kembali kredibilitas sebagai sumber informasi utama seperti yang pernah didapatkan pada masa sebelumya.

    “Pilihannya gak banyak, mengikuti sebagai media yang melayani segala macam yang dibentuk oleh selera media sosial, mass market atau bermain di ceruk lebih kecil, segmented semacam niche market,” ujarnya.

    Persoalan inilah yang akan disampaikan Nezar saat berbicara soal The Future Media dalam gelaran Tempo Media Week 2019 di panggung utama, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, 7 Desember 2019 mulai pukul 09.30. Selain Nezar, pembicara lainnya adalah Pendiri Kata Data, Metta Dharmasaputra; Pemimpin Redaksi KBR 68 H, Citra Dyah Prastuti; dan Pemimpin Redaksi Tempo.co, Setri Yasra.

    Nezar menuturkan, untuk bermain di mass market, media mainstream harus memproduksi sebanyak mungkin artikel-artikel sensasional yang bisa bersaing di media sosial. “Kalau niche market, pilihannya harus bisa membuat policy content, model bisnisnya adalah model berlangganan, submission,” ucapnya.

    Tapi, bisa juga campuran keduanya, antara content yang berlangganan dan gratis. Semua bisnis model ini belum ada formula yang tepat bisa dipakai di semua tempat di organisasi media lantaran sangat tergantung dari strategis bisnis audiens dan juga sejarah media mainstream yang bersangkutan.

    Adapun Setri menuturkan, ia akan berbicara tentang transformasi digital di Tempo. “Tonggak transformasi digital adalah Tempo.co karena itu menjadi pintu masuk produk digital majalah dan koran,” katanya.

    Selain itu, Setri akan menguatkan tayangan hasil liputan investigasif di Tempo.co. “Menuangkan hasil liputan investigasi jauh lebih keren lewat digital karena bisa dikirim lewat foto, video, dan terasa dekat dengan pembcaca karena ada interaksinya.

    Pada gelaran Tempo Media Week 2019, mengambil tema besar The Future Media. Direktur Tempo Institute, Qaris Tajudin menuturkan, revolusi digital telah mengubah banyak hal, termasuk pada bagaimana kita mengkonsumsi informasi. Jika dulu, orang harus mencari informasi dengan membaca berita dalam bentuk fisik dengan berlangganan atau membeli di loper koran dan toko buku, kini bisa diperoleh dengan gratis, cepat, singkat, dan dalam beragam bentuk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?