Selasa, 18 September 2018

Warga Desa Wisata di Karangasem Tak Punya Kulkas, Ini Ceritanya

Reporter:
Editor:

Fadhli Sofyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wistawan mengunjungi Pura Besakih, pasca erupsi Gunung Agung semalam, di Desa Besakih, Karangasem, Bali, 2 Januari 2018. Meski Gunung Agung dalam status Awas dan masih beberapa kali mengeluarkan abu vulkanik, pura itu kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan. Johannes P. Christo

    Sejumlah wistawan mengunjungi Pura Besakih, pasca erupsi Gunung Agung semalam, di Desa Besakih, Karangasem, Bali, 2 Januari 2018. Meski Gunung Agung dalam status Awas dan masih beberapa kali mengeluarkan abu vulkanik, pura itu kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan. Johannes P. Christo

    Tempo, Karangasem - Tempo Institute dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengadakan pendampingan komunitas ekonomi kreatif di Kabupaten Karangasem, Bali. Acara tersebut diadakan di Taman Sukasada Ujung pada 10-12 September 2018.

    Baca: Si Juki Bertemu Komunitas Ekonomi Kreatif Surabaya

    "Desa dirangkaikan menjadi cerita yang bisa dinikmati. Kami undang agensi kemudian tahun 2009," kata Pengurus Desa Wisata Budakeling, Karangasem, Ida Ayu Wayan Alit, saat sesi diskusi di Taman Sukasada Ujung Karangasem.

    Ayu adalah salah satu peserta dari komunitas ekonomi kreatif di bidang pariwisata. Sebelumnya ia pernah bekerja di sebuah hotel. Namun setelah cukup lama bekerja di hotel, ia ingin memperkenalkan desanya sebagai tujuan wisata pada 2008.

    "Butuh setahun memperkenalkan desa itu. Program kami tumbuh perlahan," tuturnya.

    Ayu tertarik mengembangkan potensi wisata di desanya karena terinspirasi saat ia bekerja di hotel. Bedanya, menurut dia, bila perputaran uang itu ada di hotel, tetapi idenya ini ingin pemasukan ekonomi di desanya.

    "Tamu itu benar-benar tinggal di desa," katanya. Ia menceritakan bila warga desa hampir kebanyakan tidak punya lemari pendingin alias kulkas. Ihwal tersebut, ujar dia, mampu menjelaskan sebuah cerita bahwa orang di desa mengkonsumsi makanan yang sehat.

    "Sayur baru dipetik sehingga semua segar dan sehat," ujarnya.

    Program pendampingan Komunitas Ekonomi Kreatif Bekraf dan Tempo atau Kombet Kreatif bertujuan untuk mempererat jaringan antar pegiat ekonomi kreatif di tingkat kota dan kabupaten. Setiap kota atau kabupaten, memiliki potensi ekonomi kreatif yang unik dan khas.

    Adapun Karangasem merupakan daerah ketiga yang didatangi program Kombet Kreatif. Untuk kunjungan kali pertama Padang kemudian Surabaya, Karangasem, Kendari, Maumere, Singkawang, Malang, Bojonegoro, Bandung Barat, Belu, Kupang, dan Merauke.

    Baca: Bekraf dan Tempo Dampingi Komunitas Ekonomi Kreatif Kota Padang

    Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf Endah Wahyu mengatakan bahwa komunitas ekonomi kreatif harus saling membangun jaringan. "Kami percaya, komunitas kreatif yang berjejaring kuat akan meningkatkan ekonomi kreatif di daerah dan juga bermanfaat di tingkat nasional," katanya.

    Adapun pendampingan Tempo Institute berperan juga untuk memberikan pelatihan menulis untuk menjalin cerita sebuah produk kreatif.

    "Tantangan pada impelementasi, itu hal yang menghidupkan kisah," kata Direktur Eksekutif Tempo Institute, Mardiyah Chamim.

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.