Jumat, 16 November 2018

Komunitas, Lokomotif Ekonomi Kreatif

Reporter:
Editor:

Mardiyah Chamim

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Workshop storytelling Tempo Institute dan Bekraf di Gedung Tempo, 26 April 2018. Kegiatan ini mengawali rangkaian roadshow dan pendampingan Komunitas Bekraf dan Tempo Kreatif atau KomBeT di dua belas kota. Foto Hindrawan/TEMPO

    Workshop storytelling Tempo Institute dan Bekraf di Gedung Tempo, 26 April 2018. Kegiatan ini mengawali rangkaian roadshow dan pendampingan Komunitas Bekraf dan Tempo Kreatif atau KomBeT di dua belas kota. Foto Hindrawan/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Komunitas adalah penopang sebuah masyarakat. "Kota yang punya daya hidup adalah kota yang komunitasnya bergerak aktif," kata Endah Wahyu Sulistyanti, Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Karenanya, pada periode Agustus - November 2018, Bekraf bekerja sama dengan Tempo Institute menggelar program "Komunitas Bekraf dan Tempo (Kombet) Kreatif”, yang bertujuan memantik komunitas kreatif untuk bergandeng tangan dan berkolaborasi lebih erat. "Kami percaya, komunitas kreatif yang berjejaring kuat akan meningkatkan ekonomi kreatif di daerah dan juga bermanfaat di level nasional," kata Endah Wahyu.

    Baca: Tempo Institute Gelar Pelatihan Industri Kreatif di 12 Kota

    Komunitas memang mewakili semangat zaman, yakni kolaborasi. Sekelompok orang, organisasi, di sebuah wilayah saling bergandeng tangan, berbagi semangat, dan saling membantu melambungkan karya dan gagasan bersama. Kolaborasi inilah yang menjadi kunci sukses di era digital, dengan kolaborasi maka potensi berbagai unsur masyarakat akan tampil optimal. Tersedianya berbagai platform website dan media sosial, yang bisa diakses siapa pun dan di mana pun, membuat kolaborasi semakin mudah. Komunitas memang mewakili semangat zaman, yakni kolaborasi. Sekelompok orang, organisasi, di sebuah wilayah saling bergandeng tangan, berbagi semangat, dan saling membantu melambungkan karya dan gagasan bersama. Kolaborasi inilah yang menjadi kunci sukses di era digital, dengan kolaborasi maka potensi berbagai unsur masyarakat akan tampil optimal. Tersedianya berbagai platform website dan media sosial, yang bisa diakses siapa pun dan di mana pun, membuat kolaborasi semakin mudah.

    Perlu juga kita catat bahwa di zaman teknologi ini bahwa keberagaman budaya, keunikan, kekayaan kreativitas setiap daerah, potensi alam, adalah daya saing Indonesia. Pemerintah karenanya perlu bersinergi dengan komunitas. Sebab, komunitas adalah kekuatan yang bisa menggerakkan masyarakat secara kreatif menggerakkan potensi daerah. “Kunci sukses pengembangan ekonomi kreatif di tingkat kabupaten dan kota adalah tumbuhnya berbagai komunitas kreatif yang digerakkan generasi muda,” kata Endah Wahyu.

    Berbekal gagasan bahwa komunitas adalah kunci, maka program ini digagas oleh Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf bekerja sama dengan Tempo Institute.  Program Kombet Kreatif dimulai dengan rangkaian lawatan ke 12 kota, yakni Padang, Surabaya, Kendari, Karangasem, Maumere, Singkawang, Malang, Bojonegoro, Bandung Barat, Belu, Kupang, dan Merauke.

    Di setiap kota, Kombet Kreatif bertemu dengan komunitas kreatif dari berbagai elemen. Selama tiga hari workshop, Kombet Kreatif akan menghadirkan kreator inspiratif yang akan berbagi pengalaman, pengetahuan, dan semangat berkarya. Kreator yang akan hadir dalam program ini, antara lain, Yukka Harlanda (Brodo Footwear), Benny Fajarai (Qlapa.com), Faza Meonk (Si Juki), Singgih Kartono (Radio Magno dan Spedagi), Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi), Azalea (Du'Anyam), Devi Attamimi (Hakuhodo Strategy Network Indonesia), dan Tita Larasati (Bandung Creative City Forum - BCCF). 

    Lawatan Kombet Kreatif juga akan dilengkapi dengan workshop storytelling untuk produk kreatif. Storytelling, penceritaan, adalah sarana yang ampuh meningkatkan nilai tambah sebuah produk kreatif. Kopi, misalnya, tanpa narasi yang bagus hanya akan dihargai dua atau tiga puluh ribu rupiah per kilogram. Namun, jika produk kopi itu dikemas dan diceritakan dengan baik, cara tanamnya, petaninya, aroma biji kopinya, juga bagaimana keriaan musim panen, maka harga kopi boleh jadi naik hingga ratusan ribu rupiah per kilogram. 

    Direktur Tempo Institute Mardiyah Chamim menjelaskan, workshop storytelling ini penting mengingat belum banyak pelaku usaha yang mampu menggali keistimewaan produk dan menceritakannya dengan baik. Padahal, strategi penceritaan amat diperlukan untuk membangun brand sebuah produk. Di zaman digital kini, storytelling mendapat tempat strategis karena semua produsen, kecil atau besar, dengan mudah menceritakan produk di media sosial dan beragam platform era e-commerce. "Membangun relasi antara produk dan konsumen adalah langkah yang mutlak di era digital. Narasi yang bagus sangat dibutuhkan," kata Mardiyah Chamim.  

    Direktur Hubungan Antar Lembaga Dalam Negeri Bekraf Hassan Abud juga menekankan pentingnya membangun narasi kekayaan nusantara. Dalam berbagai perjalanan ke berbagai penjuru Indonesia, Hassan menyaksikan begitu banyak kekayaan kreatif yang berhenti pada cerita lisan di kalangan penduduk. “Yang paling berkesan buat saya adalah bertemu dengan nenek-nenek yang di kaki-tangannya ada tato bermotif tenun, di pedalaman Belu, Nusa Tenggara Timur,” kata Hassan. Tato tersebut adalah bukti kecintaan, dedikasi, dan juga pengorbanan demi sebuah karya tenun. “Itu kan tatonya bukan dengan teknologi tato sekarang, tapi menggunakan rajah yang pasti sakit sekali,” kata Hassan. Hal-hal semacam ini seharusnya dikisahkan, didokumentasikan, dikemas dalam teknik storytelling yang memikat sehingga kekayaan kreatif kita semakin terekspose ke dunia. 

    Pada workshop ini, materi storytelling disampaikan oleh para wartawan dan penulis senior Tempo, antara lain, Budi Setyarso (Pemred Koran Tempo), Burhan Solihin (Direktur tempo.co), Elik Susanto (Redaktur Eksekutif tempo.co), Qaris Tajudin (wartawan gaya hidup Tempo), Bagja Hidayat (wartawan Tempo), Nana Rishky Susanti (Tempo Channel), dan Dwi Setyo Irawanto (wartawan senior, mantan wartawan Tempo). Jaringan kota kreatif ICCN, Telusuri (start up atau usaha rintisan di bidang penceritaan tempat-tempat menarik di Indonesia), terlibat sebagai mitra dalam kegiatan ini. 

    Baca: Jangan Mudah Puas, Tingkatkan Skill Anda di Sini

    Dalam berbagai kesempatan, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf menuturkan, industri ekonomi kreatif terbukti penting bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. Sepanjang 2017, Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif tercatat mencapai Rp 852 triliun. Angka ini diyakini terus meningkat di tahun-tahun mendatang, sebuah perkembangan yang harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan menarasikan dan memasarkan produk bagi pelaku ekonomi kreatif.

    Dalam berbagai kesempatan, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf menuturkan, industri ekonomi kreatif terbukti penting bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. Sepanjang 2017, Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif tercatat mencapai Rp 852 triliun. Angka ini diyakini terus meningkat di tahun-tahun mendatang, sebuah perkembangan yang harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan menarasikan dan memasarkan produk bagi pelaku ekonomi kreatif. 
    Koordinator Lawatan 12 Kota - Kombet Kreatif Tatty Apriliyana menjelaskan, panitia telah berkunjung untuk asesmen kebutuhan awal dan berjejaring dengan komunitas lokal. "Karena sebetulnya, teman-teman komunitas lokal adalah lokomotif ekonomi kreatif yang sesungguhnya," kata Tatty. "Kami sekadar menjadi katalis dan pemantik," kata Tatty. "Selanjutnya, kami berharap komunitas kreatif di berbagai kota benar-benar tumbuh solid dan berjejaring kuat."

    Workshop ini terbuka bagi pelaku industri kreatif. Silakan menghubungi Sinta Rachmawati, email sinta@tempo-institute.org atau ponsel di nomor 08788 908 1926 / 0822 1391 8019


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.