Selasa, 18 September 2018

Mengenal Bolaang Mongondow Selatan yang Jauh dari Ibu Kota

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pantai Ponii, Desa Lawoo, Posigadan, Bolaang Mongodow Selatan, Sulawesi Utara. Foto: Repro Buku Culture & Tourism Bolsel

    Pantai Ponii, Desa Lawoo, Posigadan, Bolaang Mongodow Selatan, Sulawesi Utara. Foto: Repro Buku Culture & Tourism Bolsel

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, yang berjarak lebih dari 2.000 kilometer dari Jakarta kini baru berusia 10 tahun. Namun, pemerintah daerah ini sedang berupaya mengejar ketertinggalan dengan daerah lain. Salah satunya, pemerintah daerah menerapkan teknologi informasi untuk mempermudah pelayanan kepada warganya dan pengembangan industri kreatif di sana.

    "Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan berdiri 2008, masih muda. Tapi kami sudah membangun fasilitas seperti data center pemerintah daerah, ruang Wi-Fi gratis di pesisir pantai," ujar Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Herson Mayulu, saat berkunjung ke Tempo, pada Senin, 6 Agustus 2018.

    Bupati Bolaang Mongondow Selatan Herson Mayulu (baju batik ketiga dari kiri) Wakil Bupati Iskandar Kamaru (dua dari kiri) saat berkunjung ke kantor Tempo, Selasa, 7 Agustus 2018. Foto: Evie Mulyono

    Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan merupakan pemekaran dari Kabupaten Bolaan Mongondow. Pusat pemerintahannya berada di Bolaang Uki dengan jumlah pendukuk kurang lebih 87 ribu jiwa. "Berkat bantuan Indosat, kata dia, kami membangun jaringan seluler disemua kecamatan walaupun ada beberapa titik masih dalam proses pembangunan," ujar Herson sembari menambahkan bahwa pemerintahannya sedang membangun website.

    Herson menambahkan, "Kami juga sudah memakai sistem online seperti e-Disposisi, e-Data, aplikasi online monitoring obyek pajak terpadu atau Om Odu. Ada juga sistem informasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang disingkat Simda. Ada Simda Keuangan, Simda Aset, sistem keuangan dana desa, sistem informasi verifikasi berkas".

    Menurut Herson, berada di wilayah yang jauh dari Ibu Kota Negara sangat berat. Tapi, dengan jaringan seluler, kata Herson, daerahnya tidak lagi ketingalan informasi. Awal menjabat bupati, Herson bercerita, masalah yang berat adalah sumber daya manusia.

    "Alhamdulillah setelah 5 tahun, masuk tahun ke 6, SDM sudah siap pakai semua, dan beberapa kepala SKPD yang gaptek atau gagap teknologi semua mundur dan diganti," kata Herson yang menjabat bupati dua periode itu.

    Herson berencana untuk menambahkan teknologi agar antar Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dapat terkoneksi dan terpusat pada bupati.  Dia juga ingin membangun radio di daerahnya. Herson yakin, dengan teknologi informasi yang mudah diakses, perkembangan daerahnya bakal semakin pesat. "Kemajuan Bolaang Mongondow Selatan juga segera terlihat di bidang ekonomi kreatif. Kami punya banyak kearifan lokal yang bisa dikembangkan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.